
Assalamu’alaikum temen-temen, kali ini aku coba untuk menulis suatu hal dalam kehidupan kita sehari-hari yang terlintas dipikiranku, sekalian belajar dan mensyukuri nikmat Allah swt kepada kita. Yuk belajar bersama!!
“Jangan hujan-hujanan, nanti sakit”
Tak jarang sekali kita mendengar kalimat ini saat hujan turun. Nah, hal inilah yang menjadi pertanyaan di otakku. Apa benar hujan menyebabkan sakit?
Seperti yang kita tahu secara umum, saat kehujanan tubuh pasti merasa dingin. Bisa dikatakan saat kita kehujanan suhu tubuh mengalami penurunan. Tubuh kita memiliki suhu yang berbeda dengan air hujan yaitu lebih hangat yaitu sekitan 36,5oC – 37oC (Nusi et al. 2013). Saat hujan mengenai tubuh, terutama bagian kepala suhu tubuh akan mendadak berubah drastis dan pada keadaan ini tubuh tetap dipaksa untuk menghasilkan energi yang berlebihan. Jika tubuh kita dalam keadaan imun yang kuat, maka mungkin hanya akan terjadi penurunan daya tahan imun, tapi jika kita kehujanan saat keadaan daya tahan yang lemah, maka akan sangat mudah terserang penyakit dikarenakan tubuh berusaha menyeimbangkan kondisi dan perubahan suhu tersebut.
Usaha penyeimbangan kondisi dan perubahan suhu tubuh inilah yang menyebabkan kita pusing sehabis kehujanan. Selain itu, berubahnya kelembaban udara saat hujan menyebabkan organ-organ tubuh seperti paru-paru, selaput lendir di hidung, dan lendir mata mengering dan kehujanan juga dapat menyebabkan hipotermia yaitu keadaan turunnya suhu tubuh hingga <35o C (Sarnah et al. 2020). Oleh karena itu, usaha penyeimbangan suhu tubuh dan hipotermia ini memberikan tekanan pada tubuh termasuk imun tubuh sehingga menjadi rentan terhadap virus dan bakteri.
Hujan secara alami bersifat asam (pH 5,6) karena karbondioksida
(CO2) di udara dapat larut dalam air hujan dan menghasilkan senyawa yang bersifat asam. Hujan asam terjadi karena tingginya gas sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen dioksida (NO2). Zat-zat ini apabila berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air akan membentuk asam sulfat dan asam nitrat dan kemudian jatuh bersama air hujan (Wardhani et al. 2015). Berdasarkan hal tersebut, air hujan sangat berbeda dengan air keran maupun air lainnya. Semakin tinggi kandungan asam dari air hujan, maka akan semakin berbahaya.
Dapat kita simpulkan, hujan tidak sepenuhnya penyebab penyakit jika tubuh kita dalam keaadaan imun yang normal.
Oleh karena itu, alangkah lebih baiknya kita dapat mencegah daripada mengobati yaitu dengan cara mandi setelah kehujanan agar membantu tubuh mengembalikan suhu tubuh normal serta menghilangkan kotoran dari air hujan tersebut , pakai pakaian hangat, dan minum/makan yang hangat.
Daftar Pustaka
Nusi DT, Danes VR, Moningka MEW. 2013. Perbandingan suhu tubuh berdasarkan pengukuran menggunakan termometer air raksa dan termometer digital pada penderita demam di rumah sakit umum kandou Manado. Jurnal e-Biomedik. 1(1): 191-196.
Sarnah, Firdayanti, Rahma AS. 2020. Manajemen asuhan kebidanan pada bayi Ny “H” dengan hipotermi di puskesmas Jumpandang Baru Makassar. Jurnal Midwifery. 2(1):1-9.
Wardhani MK, Ihwan A, Nurhasanah. 2015. Studi tingkat keasaman air hujan berdasarkan kandungan gas CO2, SO2 dan NO2 di udara (studi kasus balai pengamatan dirgantara Pontianak). Jurnal Prima Fisika. 3(1): 9-14.
Happy reading, semoga bermanfaat. Semangat terus para pencari ilmu!!